TIONGCHIU PIA . MOONCAKE SERIES 2018 . KIMLING KULIT COKLAT / TONG CIU PIA KULIT COKLAT : (HARGA isi 4pcs per box) sesuai brosur. 1. TAN HUANG LIEN RUNG (KACANG TERATAI TELUR) = 288.000 per box . 2. TAN HUANG TOU RUNG (Kacang hijau telur) = 268.000. 3. U REN CIN DUI (KACANG KENARI HAM (mengandung babi)= 268.000) 4. TAN HUANG TOU SAH
Umat Konghucu Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, saat menggelar Sembahyang Tiong Chiu Pia atau Kue Bulan. Selasa malam 21/09/2021 foto istimewaTuban - Puluhan umat Konghucu di Tempat Ibadah Tri Dharma TITD Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, pada Selasa malam 21/09/2021, menggelar Sembahyang Tiong Chiu Pia atau Kue Bulan dan ritual Dewi Bulan, dalam rangka memperingati musim gugur atau Tiong Chiu Pia atau Kue Bulan dilakukan setiap setahun sekali pada malam Tiong Chiu yakni pada pertengahan musim rontok, sesuai penanggalan Tiongkok, yang tahun ini berlangsung pada tanggal 15 bulan 8 tahun 2572 atau jatuh pada tanggal 21 September adanya pandemi COVID-19, Perayaan malam Tiong Chiu Pia digelar di laut yang diikuti oleh seluruh para nelayan, namun karena adanya pandemi, perayaan digelar di area Konghucu Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, saat menggelar Sembahyang Tiong Chiu Pia atau Kue Bulan. Selasa malam 21/09/2021 foto istimewaKetua Penilik Demisioner Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Alim Sugiantoro kepada awak media ini Rabu 22/09/2021 mengungkapkan bahwa sembahyang malam Tiong Chiu atau perayaan kue bulan berlangsung pada musim rontok, di mana bulan purnama berada pada posisi yang paling bulat di sepanjang tahun ini."Kegiatan malam pertengahan Tiong Chiu dilakukan setiap tahun dengan sembahyang," tutur Alim Alim Sugiantoro, tak hanya itu, umat Konghucu juga melakukan ritual dewi bulan dan dewa matahari yang turun ke bumi dengan mengitari kolam yang berada di halaman belakang Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, dengan menggunakan perahu."Ritual ini sebagai bentuk kemakmuran bagi seluruh umat. Sementara Dewi Bulan dan perahu sebagai simbolis saja." kata Alim juga menyampaikan bahwa dalam sembahyang tersebut, umat Konghucu juga mendoakan agar pandemi COVID-19 segera sirna, sehingga bangsa Indonesia dapat mengembalikan perekonomian, termasuk para petani mendapatkan hasil panen yang bagus dan melimpah."Semoga tahun depan sudah tidak ada Corona, jadi perayaan kue bulan ini akan kami gelar di laut yang diikuti seluruh nelayan, karena semua orang boleh ikut merayakan," kata Alim Sugiantoro. ayu/imm
SembahyangTiong Ciu Pia, Hari Raya Hok Tek Ceng Sin, Hari Raya Kha Lam Ya: 06-Oct-2018: 27-08-2569: Hari Lahir Nabi Agung Khong Hu Cu: 27-Oct-2018: 13-Sep-2019: 15-08-2570: Sembahyang Tiong Ciu Pia, Hari Raya Hok Tek Ceng Sin, Hari Raya Kha Lam Ya: 25-Sep-2019: 27-08-2570: Hari Lahir Nabi Agung Khong Hu Cu: 17-Oct-2019:
Di mana bumi dipijak disitu langit dijunjung, barangkali ungkapan ini yang dulu dipakai oleh generasi nenek moyang Suku Tionghoa yang awal menetap di Banjarmasin. Sehingga tidak heran jika penyerapan budaya lokal Suku Banjar sangat besar pengaruhnya dalam melaksanaan tradisi leluhur suku Tionghoa. Apa yang dinamakan Peranakan Tionghoa Banjar, mari kita lihat dari berbagai kutipan seperti yang ditulis oleh M. Rezky Noor Handy dalam jurnal penelitiannya berjudul Orang Tionghoa Di Banjarmasin Dalam Sejarah Banjar, sebagai berikut Menurut Moch. Fajar Amrullah 200436-37, Orang Cina/ Tionghoa yang datang ke Indonesia atau Tionghoa Imigran disebut dengan “Cina Totok”, setelah itu ada yang kawin dengan orang-orang pribumi dan melahirkan Tionghoa Peranakan. Untuk itu biasanya mereka berorientasi pada kebudayaan Indonesia, termasuk hal bahasa. Menurut Titin Listiani 2011, Masyarakat Tionghoa di Indonesia umumnya terbagi menjadi dua golongaan. Pertama disebut dengan golongan Peranakan, yaitu generasi imigran Cina yang hidup turun-temurun di Indonesia yang sudah tidak lagi condong ke negeri Cina dan telah menganggap Indonesia sebagai bangsa asli mereka. Golongan kedua adalah golongan “Totok” yaitu mereka yang telah hidup turun-temurun namun pada umumnya masih fanatik menggantungkan loyalitas kepada leluhurnya di negeri Cina. Jadi yang penulis maksudkan sebagai Peranakan Tionghoa Banjar adalah warga keturunan Tionghoa yang sudah beberapa generasi lahir dan besar serta membaur dengan penduduk asli baik dengan ikatan perkawinan ataupun dalam hal percampuran budaya dan bahasa dan telah menganggap Indonesia sebagai tanah tumpah darahnya namun tidak melupakan budaya asli nenek moyangnya. Dalam edisi kali ini penulis mencoba mengangkat tema Sembahyang Pia Festival Kue Bulan / Tiong Ciu Pia. Sembahyang pia atau biasa dikenal luas dengan nama Festival Kue Bulan atau Tiong Ciu Pia diperingati setiap tahun pada pada tanggal 15 bulan 8 penanggalan Lunar Tionghoa Penanggalan Imlek. Pada tahun 2021 ini jatuh pada tanggal 21 September 2021. Pia adalah sejenis kue berbentuk bulat terbuat dari tepung terigu yang dioven dengan isi berbagai varian, antara lain isi daging babi, isi daging ayam, isi kacang hijau, isi kacang merah, isi tausa, dan lain lain. Kulitnya juga ada 2dua macam, yang renyah atau yang lembek. Di Banjarmasin, ada beberapa pembuat kue pia yang enak, namun yang terkenal dan sangat legendaris sampai saat ini adalah Tante Ujit yang juga merupakan umat gereja Kelayan dan ibu dari notaris Angelika Gaby Siantory, SH Mkn Tradisi Sembahyang Pia atau sembahyang bulan dilakukan menjelang malam hari di mana cahaya bulan sudah muncul di langit, dimulai dengan ritual membersihkan badan mandi di sore hari dengan siraman air rendaman aneka kembang antara lain, bunga mawar, bunga melati, bunga kenanga, bunga cempaka, bunga pinang muda mayang yang direndam dalam air rebusan daun pudak pandan dan serai. Mandi seraya membaca mantra-mantra yang diyakini membuat hasil baik sugesti positif bagi tubuh dimana diyakini dapat membuat badan mengeluarkan aura bercahaya terang. MANTRA MANDI Parupuk turusku mandi Kuhimpitakan duri telaga Kaya humbut awakku mandi Marabut cahaya kumala naga Parupuk turusku mandi Kuhimpitakan duri subarang Kaya humbut awakku mandi Marabut cahaya bulan tarang Setelah selesai mandi, berpakaian bersih kalau perlu baru, lanjut dengan sembahyang di pelataran rumah dimana dapat terlihat cahaya bulan dilangit. Sembahyang dengan menghadap ke bulan yang pada malam itu dipastikan terang benderang karena bulan purnama. Sajian utama di meja sembahyang adalah kue pia atau dikenal juga dengan kue bulan, manisan buah kana, manisan buah plum kurma, buah delima, aneka buah segar dan kuaci serta mangkuk berisi beras untuk tempat meletakkan hio dupa. Terdapat juga meja dan kursi yang terdapat perlengkapan kosmetik antara lain, bedak dan sisir serta cermin meja. Selesai sembahyang mengucap syukur pada Tuhan di malam itu, dilanjutkan dengan ritual prosesi memakai bedak sambil bercermin dan menatap ke bulan sembari membaca mantra-mantra pengasih diri oleh para gadis dalam keluarga besar yang merayakannya. MANTRA MEMAKAI BEDAK Bedak diletakkan di telapak tangan, sambil memandang bulan dibacakan Pur sinupur Aku bapupur di bulan tarang Bismillah aku bapupur Rupaku nangkaya bulan tarang. ” Pur sinupur Bapupur di piring karang Bismillah aku bapupur Manyambut cahaya si bulan tarang Pur sinupur Kaladi tampuyangan Bismillah aku bapupur Banyak urang karindangan Pupurku si ulam-ulam Tunggangan burung kandarsih Aku bapupur saparti bulan Barang siapa mamandang aku berhati kasih Kemudian bedak dioleskan ke seluruh wajah. Tujuan mantra ini adalah agar memiliki wajah terang benderang laksana rembulan di malam hari MANTRA MEMINYAKI RAMBUT Caranya sedikit minyak rambut/ minyak kelapa diletakkan di telapak tangan kemudian sambil menatap ke bintang-bintang di langit yang kerlap kerlip, dibacakan Pur Sinupur Minyak ku minyak nyiur Kuandak di hati tangan rupaku nangkaya Bintang Timur Barang siapa memandangku karindangan. Hembuskan pada telapak tangan yang telah dituangi minyak tadi, kemudian oleskan pada rambut. Setelah selesai prosesi tersebut di atas, sambil menunggu tengah malam, duduk santai sekeluarga di sekitar meja sembahyang sambil menikmati sinar rembulan yang bulat nya sempurna purnama . Pantangan yang diingatkan pada malam hari ini adalah menunjuk bulan, karena diyakini sugesti telinga akan diiris oleh bulan. Pada saat masih kecil, penulis sangat ingat sekali bahwa pernah melanggar pantangan ini untuk membuktikannya, memang benar keesokan paginya pada saat bangun pagi, bagian atas telinga luka perih sedikit berair. Sehingga penulis disuruh orang tua untuk meminta maaf pada bulan pada malam harinya dengan cara pai-pai ke bulan. Sehingga berangsur-angsur telinga membaik kembali. Apakah pembaca juga ada yang mengalami hal serupa saat masih kecil ? Tradisi ini berangsur punah, mungkin karena perkembangan perilaku, perubahan zaman atau juga karena dianggap mitos yang bertentangan dengan agama yang dianut, sehingga saat ini sangat jarang dilakukan ritual selengkap itu, yang pasti masih dilakukan sampai saat ini adalah makan kue pia bersama keluarga besar atau kerabat di tanggal tersebut. Ada beberapa legenda dan mitos di balik perayaan kue bulan yang dimulai sejak 2170 SM, yang paling terkenal adalah kisah sang pemanah Huo Yi yang berhasil memanah 8 matahari di langit sehingga menyisakan satu saja. Banyaknya matahari itu membuat bumi sangat panas sehingga orang-orang menderita karena kekeringan dan kelaparan. Atas keberhasilan Huo Yi, raja menghadiahinya pil panjang umur. Namun kekasih Huo Yi, Chang Er, menelan pil itu sehingga mendapat kehidupan abadi di bulan sebagai Dewi Bulan. Huo Yi menyesali kejadian itu, namun tak bisa mengubah keadaan. Untuk mengobati kerinduan, setiap tanggal 15 bulan ke-8, ia duduk minum teh dan menikmati kue sambil menunggu Chang Er menampakkan diri ketika bulan purnama. Versi lainnya adalah penghormatan kaum petani kepada Dewi Bulan pada tanggal itu karena panen yang berlimpah. Para petani lalu membuat dan mempersembahkan sejenis kue berisi bulatan kuning telur utuh yang menjadi simbol bulan purnama sebagai rasa syukur kepada Dewi Bulan. Seiring waktu, tradisi itu terus dilaksanakan warga keturunan China di seluruh dunia. Dipercaya, kue bulan adalah simbol kemakmuran dan panjang umur yang perlu dilestarikan. oleh Maria Roeslie sumber
Sembahyanghari raya Tiong Ciu & hari berterimakasih kepada Kongco Hok Tek Cing Sin*mohon maaf ada gangguan pada audio
Orang-orang zaman sekarang lebih sering mengutamakan festival daripada peribadatan, padahal semua festival yang ada hakikatnya timbul dari perayaan keagamaan, yang tentu saja terkait peribadatan. oleh Uung Sendana Linggaraja kita pergi ke mal atau pasar, khususnya di dekat pemukiman komunitas Tionghoa, saat ini kita akan melihat banyak toko tradisional atau modern market yang menjual kue berbentuk bulat seperti rembulan. Ya, mereka berjualan Tiong Ciu Pia atau Mooncake. Seperti perayaan Xin Nian, Cap Go Me, Qing Ming, Duan Yang, Jing He Ping, Dong Zhi, banyak versi cerita dan legenda seputar perayaan Zhongqiu. Yang lebih memprihatinkan orang-orang zaman sekarang lebih sering mengutamakan festival daripada peribadatan, padahal semua festival yang ada hakikatnya timbul dari perayaan keagamaan, yang tentu saja terkait peribadatan. Saya pribadi, seperti juga umat Khonghucu pada umumnya, melaksanakan peribadatan sebagai inti utama dalam merayakan perayaan-perayaan di atas. Sebagai imbas dari peribadatan timbullah festival yang merupakan wujud simbolisme peribadatan tersebut yang berkembang dari masa ke masa. Titik tumpu utama inilah yang membedakan antara umat Khonghucu yang merayakan sebagai hari raya keagamaan melalui peribadatan dengan masyarakat umum yang merayakan perayaan ini sebagai budaya melalui festival budaya. Umat Khonghucu pada umumnya memakan makanan khas seperti Tiong Ciu Pia, bakcang, kue ronde, dan lain-lain tak lepas dari peribadatan dengan sajian makanan khas tersebut yang sarat makna. Berbeda dengan orang-orang yang merayakan sekedar sebagai festival, mereka memakan makanan khas tersebut tanpa ada kaitan dengan peribadatan. Seseorang yang beragama tertentu yang tidak lagi bersembahyang pada shen atau leluhur—bahkan dilarang oleh agamanya bersembahyang dengan hio/xiang atau memakan sajian bekas sembahyang—bisa saja ikut merayakan festival dan memakan makanan khas tersebut tanpa melaksanakan peribadatan yang berkaitan dengan makanan tersebut. Kalaupun dibuat peribadatan atau dikaitkan dengan peribadatan oleh agama tertentu, peribadatan yang dilaksanakan bergeser dari tujuan dan makna awal peribadatan dilaksanakan. Ya, bergeser, karena ritus dan kultus suatu agama seringkali berbeda. Nilai-nilai utama dalam peribadatan agama-agama tidaklah sama. Titik berat agama-agama berbeda-beda. Budaya yang menyertai agama-agama berbeda. Cara pandang penganut agama-agama terhadap dunia, alam roh, dan afterlife pun berbeda. Kembali pada perayaan Zhongqiu. Ada makna apa dibalik perayaan itu? Kepada apa dan siapa peribadatan dilaksanakan? Dalam Yijing, Babaran Agung 32 tertulis, "Begitu Matahari pergi, datanglah Bulan. Begitu Bulan pergi, datanglah Matahari. Matahari, Bulan, saling mendorong/bergantian dan terbitlah terang. Dingin pergi panas datang. Panas pergi dingin datang. Dingin dan Panas saling mendorong dan sempurnalah masa satu tahun. Yang pergi itu berkurang kian berkurang. Yang datang itu tambah kian bertambah. Proses kian berkurang, kian bertambah, saling mempengaruhi dan membawa berkah untuk pertumbuhan/kehidupan." Sembahyang Zhongqiu adalah pernyataan syukur atas berkah Tian YME melalui bumi. Pada saat ini panen sedang melimpah. Maka umat Khonghucu bersembahyang syukur kepada she malaikat bumi atau sekarang dikenal sebagai Hok Tik Cing Sien Fu De Zheng Shen. Bersembahyang pada malaikat bumi berkaitan erat dengan keyakinan umat Khonghucu bahwa kebajikan yang ditanam akan menurunkan berkah Tian melalui bumi bukan hanya pada dirinya tapi melimpah generasi ke generasi dan meluas pada seluruh umat manusia. Fu De Zheng Shen bermakna Malaikat Sejati yang Membawa Berkah atas Kebajikan. Fu = Berkah. De = Kebajikan. Zheng = Sejati, Kokoh, Benar. Shen = Roh, Malaikat. "Tanggal 15 bulan 8 Yinli Kongzili adalah saat bulan purnama di pertengahan musim rontok di belahan bumi Utara. Saat itu cuaca baik dan bulan nampak sangat cemerlang. Para petani sibuk dan gembira karena berada di tengah musim panen. Maka musim itu dihayati sebagai saat-saat yang penuh berkah Tuhan Yang Maha Esa lewat bumi yang menghasilkan berbagai biji-bijian dan buah-buahan. —Tertulis dalam tata agama dan tata laksana upacara agama Khonghucu MATAKIN Pada saat purnama yang cemerlang itu dilakukan sembahyang kepada Fu De Zheng Shen Hok Tik Cing Sien, Malaikat Bumi, sebagai pernyataan syukur. Sebagai sajian khusus ialah Tiong Ciu Pia yang melukiskan bulat dan cemerlangnya bulan. Bulan seperti juga bumi, melambangkan sifat Tai Yin sifat negatif yang besar. Maka Tiong Ciu Pia yang melukiskan rembulan juga melambangkan Fu De Zheng Shen Malaikat Bumi. Di dalam Upacara Sembahyang Besar Zhongqiu hendaklah dihayati makna yang tersirat bahwa Tuhan Maha Besar, Maha Pengasih, dan segenap berkah karunia itu hendaknya mendorong dan meneguhkan iman, menjunjung dan memuliakan Kebajikan karena makna Fu De Zheng Shen ialah Malaikat Sejati yang Membawakan Berkah atas Kebajikan. Begitu selanjutnya tertulis dalam Tata Agama. Menghormat kepada Fu De Zheng Shen hendaknya mengingatkan pula kepada sabda Nabi Yi Yin yang berbunyi, 'Sungguh milikilah yang satu-satunya, yaitu Kebajikan, Dialah yang benar-benar berkenan di hati Tuhan. Jangan berkata Tuhan memihak kepadaku, hanya Tuhan senantiasa melindungi yang satu, yakni Kebajikan.'" Umat Khonghucu melakukan persembahyangan empat musim. Pada musim Semi sembahyang Tahun Baru Imlek, Xin Nian disebut Yue, pada musim Panas disebut Di sembahyang Duan Yang, pada musim Rontok disebut Chang sembahyang Zhongqiu/Tiong Chiu dan pada musim Dingin disebut Zheng sembahyang Dong Zhi/Tang Cek. Persembahyangan pada musim Panas Di mengungkapkan maraknya sifat Yang dan sembahyang musim Rontok Chang mengungkapkan maraknya sifat Yin Li Ji XXII 24, Sempurnanya Persembahyangan. Oleh karena itu, umat Khonghucu melaksanakan sembahyang Duan Yang di bulan 5 go gwee/wu yue, berkaitan dengan Matahari unsur Yang; sedangkan yang terkait dengan unsur Yin Bulan pada tanggal 15 bulan Delapan karena bulan purnama lebih sempurna dan paling dekat dengan bumi di antara Bulan Purnama Yuan Yue sepanjang tahun. Berkaitan dengan spiritualitas dan filosofi yin yang, persembahyangan Zhongqiu adalah pesembahyangan yin, tak heran belakangan Zhongqiu dilukiskan dengan legenda Dewi Bulan Chang’e. Dewi atau perempuan seperti juga bulan dan bumi adalah unsur Yin. Bila kita kaji lebih lanjut, empat musim berkaitan juga dengan yin yang. Musim Dingin tai yin, musim semi shao yang, musim panas tai yang, dan musim rontok shao yin. Negara dengan musim kemarau dan hujan seperti Indonesia, sebetulnya mengenal empat musim pula musim kemarau tai yang, pancaroba kemarau ke hujan shao yin, hujan tai yin, dan pancaroba hujan ke kemarau shao yang. Seperti juga hari bukan hanya siang tai yang dan malam tai yin tapi ada pagi shao yang dan sore shao yin. Dalam Liji dijelaskan bahwa persembahyangan berkaitan dengan musim berikut perlengkapan dan sajian tak lepas dari yin dan yang. Kitab Yijing memberi petunjuk pada kita, satu yin satu yang itulah dao. —Babaran Agung Yang menyempurnakan peta itulah yang dinamai Qian, Pencipta; dan yang memberi bentuk tertentu itulah yang dinamai Kun, Ciptaan, Penanggap. —Babaran Agung 30 Agama Khonghucu adalah agama yang religius-filosofis, di dalamnya terkandung nilai-nilai religi dan nilai-nilai filosofi. Religi dan filosofi adalah satu kesatuan yin-yang. Kita seringkali hanya memahami satu sudut, tak utuh dan tak tahu serta tak mau tahu ketiga sudut lainnya. Sekedar ikut menjalankan tanpa memahami, hingga akhirnya nanar ditinggalkan oleh anak cucu yang tak lagi peduli dan berpindah haluan. bwt
ByHerman Tan. Mid Autumn Festival, atau Festival Pertengahan Musim Gugur diadakan setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek (Lunar), yang biasanya jatuh sekitar bulan September atau awal Oktober pada kalender Gregorian. Di tahun 2022 ini, festival yang dikenal karena Mooncake atau Kue Bulan ini akan jatuh pada hari Sabtu, 10 September 2022.
September 13, 2019 800 am - 500 pm Lo Cia Bio, Jalan Cibunar Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10140 Jakarta, Jakarta Pusat 10140 Indonesia + Google Map
SembahyangTIONG CIU PIA & Hari Kemuliaan Dewa HOK TEK CEN SIN » + Google Calendar + iCal Export. Details Date: September 1, 2019 Time: 8:00 am - 5:00 pm Organizer Yayasan Kampung Duri Phone: +(62) 21 - 6316323 Website: www.lociabio.com. Venue Lo Cia Bio Jalan Cibunar No.8, Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10140 Jakarta,
Last Updated on 18 April 2021 by Beberapa daerah di tanah air sendiri terdapat satu tradisi yang sering dilakukan di dalam kelenteng, bertepatan dengan sembahyang tanggal 15 bulan 8 Imlek, yakni Zhongqiu Jie atau Festival Musim Gugur. Tradisi yang sudah berumur ratusan tahun ini bernama Utang Pia pinjam pia, atau di beberapa daerah sering juga disebut Pia Hoki, atau amal pia. Tidak jelas apakah tradisi ini dibawa oleh para perantauan etnis Tionghoa, ataukah karena pengaruh akulturasi dengan budaya lokal. Tradisi ini dilakukan oleh si pemohon umat dengan melakukan sembahyang serta Poapoe Zhì xiáo; 擲筊 untuk meminjam pia hoki dari para Dewa-Dewi di kelenteng; dengan maksud untuk dikembalikan berlipat di tahun berikutnya. Biasanya si pemohon akan melipatkan pengembalian nilai nominal awal dari pia dari 1 menjadi 2 dan seterusnya sampai mencapai siopoe. Tradisi ini diyakini akan membuat rezeki kita semakin besar di tahun yang akan datang. Ada tradisi unik bagi umat kelenteng dan masyarakat Tionghoa di Manado Sulawesi Utara, berkaitan dengan sembahyang Zhong Qiu 中秋 Hokkian Tiong Ciu berkaitan dengan kegiatan Hutang Pia. Masih banyak umat yang melaksanakannya hingga kini diberbagai Klenteng. Namun namun jarang yang memahami akar sejarahnya, seperti dimana dan bagaimana kegiatan hutang pia ini bermula. Menurut penelusuran di berbagai dokumen tua yang ada dalam perpusatakaan pribadi saya, baik dokumen berupa catatan yang telah saya konfirmasi melalui wawancara kepada para sesepuh dan mantan pengurus kelenteng kurang lebih 30 tahun yang lalu. Maka jelaslah bahwa kegiatan Hutang Pia adalah wujud salah satu kegiatan umat untuk membantu operasional Klenteng pertama di Manado, yakni Klenteng Ban Hing Kiong 萬興宮; Wan Xing Gong. Klenteng Ban Hing Kiong dalam beberapa catatan sejarah disebut dibangun pada tahun 1819 di Manado. Namun, penelusuran dokumen sejarah yang ada pada saya menunjukkan bahwa jauh sebelumnya sudah dibangun Klenteng Ban Hing Kiong sejak dibangunnya benteng Fort Amsterdam dan kawasan kampung Cina oleh pemerintah Hindia Belanda di Manado. Sedangkan penyebutan tahun 1819 lebih merujuk kepada bangunan Klenteng dipugar menjadi semi permanen. Kegiatan Hutang Pia adalah upaya kreatifitas pimpinan Klenteng Ban Hing Kiong pasca kejadian wabah kolera yang melanda kota Manado di tahun 1930, serta bencana banjir besar di Manado tahun 1936. Lewat penelusuran dokumen yang ada, menyebutkan bahwa kegiatan hutang pia ini mulai dilakukan saat kegiatan sembahyang Zhong Qiu 中秋 Tiong Ciu pada tahun 1937 di Klenteng Ban Hing Kiong Manado. Saat itu, Kapiten Cina di Manado mengangkat Kethio-Kethio pengurus kelenteng sebagai petugas sembahyang di Klenteng Ban Hing Kiong, dan para Kethio inilah yang kemudian melaksanakan kegiatan Hutang Pia untuk operasional persembahyangan di Klenteng Ban Hing Kiong yang pada masa saat itu merupakan satu-satunya Klenteng di Manado. Sebutan Kethio kini berubah menjadi Tauke Klenteng atau petugas sembahyang. Tampak kayu poapoe yang terletak di meja altar sembahyang Adapun Hutang Pia adalah kegiatan seorang umat yang menyakini dengan imannya melaksanakan proses Poa Poe di Klenteng, yakni prosesi “bertanya” kepada Shen Ming 神明 Roh Suci. Tata cara Poa Pwee 跋貝; Bá bèi adalah melempar dua keping kayu berbentuk setengah lingkaran, dengan masing-masing sisinya harus berlainan Filosofi Yin Yang 陰陽. Makna dan arti yang tersirat dalam Poa Pwee adalah 1. Jika satu sisi terbuka dan yang satu tertutup artinya ya, atau direstui. 2. Jika dua-duanya terbuka diartikan “tertawa” atau masih berimbang dan boleh dilakukan lagi prosesi “bertanya” kepada Shen Ming 神明. 3. Jika keduanya tertutup artinya tidak direstui atau tidak. Saat Poa Pwee, seorang umat akan berikrar dan berniat dalam hati dengan mengucapkan jumlah uang berapa yang akan dibayar nanti saat sembahyang Zhong Qiu 中秋 Tiong Ciu tahun depan. Jika misalnya disebut seratus ribu rupiah dan “direstui” melalui Poa pwee oleh Shen Ming 神明, maka kue Pia atau kue bulan boleh diambil, dan nanti dibayar tahun depan kepada pengurus Klenteng. Namun demikian, ada juga yang langsung membayar kontan. Namun jelaslah maknanya bahwa “hutang” yang dibayar tahun depan bermakna “membawa pulang kue pia”. Nanti tahun depan saat sembahyang Zhong Qiu 中秋 Tiong Ciu hutang pia nya dibayar, sekaligus umat sudah bertekad untuk melipat gandakan hutangnya. Misalnya, tahun ini berhutang seratus ribu rupiah, maka setelah dibayar tahun depan, lalu hutang pia lagi, namun jumlahnya digandakan. Tampak seorang umat yang sedang bersembahyang di kelenteng B. Lantas Apa Makna Dibalik Tradisi Ini? Tradisi ini bermakna agar kita selalu berpikiran positif rezeki selalu berlipat naik, tidak ada yang turun rejeki dan membentuk motivasi kita agar lebih giat bekerja. Kehidupan manusia tidak bisa dilalui tanpa perjuangan, tanpa semangat yang tinggi dalam mencapai cita-cita. Melalui tradisi ini, umat kelenteng percaya bahwa rejeki harus terus naik. Makanya tidak ada istilahnya balikin nominalnya tetap, apalagi berkurang. Selain itu, dengan adanya kegiatan hutang pia ini maka kegiatan operasional Klenteng bisa terus berlangsung, karena sumber dananya bertambah, selain sumbangan umat pribadi dan usaha lain. Disisi lain, umat menyakini bahwa dengan melaksanakan hutang pia, sumbangannya dengan membayar hutang dan melipat-gandakan sumbangannya ke Klenteng, maka berkat rejeki akan terus bertambah setiap tahun. Dengan demikian, umat yang melaksanakan hutang pia setiap tahunnya terus bertambah hutangnya dan bertambah pula kontribusi sumbangan bagi operasional dan kas Klenteng. Kini, kegiatan Hutang Pia ini sudah dilaksanakan di hampir semua Klenteng yang ada di Manado. Mungkin, tradisi unik ini juga sudah diikuti di berbagai klenteng lain di Indonesia. Sejarah hutang pia memang berasal dari tradisi kepercayaan dan kegiatan umat Khonghucu maupun umat kelenteng yang datang bersembahyang di Klenteng. Catatan Diolah dari berbagai sumber dan dokumen; dengan penambahan dan pengeditan seperlunya tanpa mengubah maksud konteks asli. Penulis Js. Sofyan Jimmy Yosadi, SH. Yang Chuan Xian; 楊传贤 Badan Pengurus MATAKIN Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Bidang Hukum, Ketua Komunitas Budaya Tionghoa Sulut. Post navigation
SembahyangTIONG CIU PIA & Hari Kemuliaan Dewa HOK TEK CEN SIN. September 13, 2019 Time: 8:00 am - 5:00 pm Organizer Yayasan Kampung Duri Phone: +(62) 21 - 6316323 Website: www.lociabio.com. Venue Lo Cia Bio Jalan Cibunar No.8, Gambir, Kota Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10140 Jakarta, Jakarta Pusat 10140 Indonesia + Google Map Phone:
Copyright 2014 Lociabio.
Tradisiorang tionghoa setiap tanggal 14 mlm 15 bln 8 penanggalan imlek melaksanakan persembahyangan kue tiong chin pia atau sering disebut dgn kue bulan.krn
Laporan Wartawan Surya, Mochamad Sudarsono TUBAN - Umat Konghucu TITD Kwan Sing Bio Tuban menggelar sembahyang tiong ciu pia atau kue bulan, Kamis 1/10/2020, malam. Sembahyang dalam rangka memperingati musim gugur atau rontok ini dilakukan sesuai penanggalan cina tanggal 15 bulan 8 tahun 2571, yang jatuh pada hari ini, Kamis. Meski dilakukan di luar kelenteng karena tempat ibadah dalam sengeketa hukum, namun sembahyang berlangsung hikmat. Ketua Penilik Demisioner TITD Kwan Sing Bio Tuban, Alim Sugiantoro mengatakan, kue bulan dibuat seiring berkembangnya peradaban manusia, merupakan simbol yang mewujud dari kreasi manusia sebagai hasil olah pikir dan olah rasa. Ini menunjukkan kesadaran manusia atas keterbatasan yang dimiliki, terkait erat hukum yin-yang sebagai wujud Tian Li yang berlaku di jagad raya. • Fakta Dokter RSUD Dr Koesma Tuban Wafat Terpapar Corona, Ada Riwayat Obesitas, Total 4 Dokter Wafat "Kita lakukan sembahyang tiong ciu pia atau kue bulan, ini memperingati musim rontok sebagaimana tradisi di cina," ujar Alim kepada wartawan di lokasi. Dia menjelaskan, adanya sembahyang ini membuktikan jika kelenteng kwan sing bio merupakan milik umat Tri Dharma, bukan buddha. Dalam tradisi sembahyang, umat juga memanjatkan doa agar permasalahan di kelenteng bisa segera berakhir dengan baik. Sekitar 20 lebih umat pun tampak khusuk saat melakukan sembahyang, sesekali menghadap rembulan yang berada di atas laut. "Kita berdoa semoga permasalahan di kelenteng cepat selesai dan juga covid-19 segera hilang," pungkasnya.nok
Sembahyang TIONG CIU PIA & Hari Kemuliaan Dewa HOK TEK CEN SIN; Sembahyang Penutupan TIONG CIU PIA » + Google Calendar + iCal Export. Details Date: September 14, 2019 Time: 8:00 am - 5:00 pm Organizer Yayasan Kampung Duri Phone: +(62) 21 - 6316323 Website: www.lociabio.com. Venue Lo Cia Bio Jalan Cibunar No.8, Gambir, Kota Jakarta Pusat
KapanSembahyang Kue Bulan 2019. Santapan Khas saat Tiong Ciu | KASKUS. Salah satu titik di Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal menurut namanya dalam Bahasa Hokkian yaitu gwee pia atau tiong chiu pia karena hari ini bertepatan dengan acara Sembahyang bulan atau sembahyang festival kue bulan.
GcNG. 0gwg9klhmf.pages.dev/7660gwg9klhmf.pages.dev/7330gwg9klhmf.pages.dev/570gwg9klhmf.pages.dev/6440gwg9klhmf.pages.dev/3420gwg9klhmf.pages.dev/2940gwg9klhmf.pages.dev/5270gwg9klhmf.pages.dev/2390gwg9klhmf.pages.dev/2060gwg9klhmf.pages.dev/620gwg9klhmf.pages.dev/2330gwg9klhmf.pages.dev/7180gwg9klhmf.pages.dev/3920gwg9klhmf.pages.dev/8440gwg9klhmf.pages.dev/775
sembahyang tiong ciu pia 2019