KaidahPenulisan Hamzah (Kaidah Imla dan Rasm) Berbeda dengan huruf hijaiyah lainnya, hamzah mempunyai kaidah tersediri dalam penulisannya. Hamzah bisa ditulis dalam bentuk alif, ya', wau, atau mandiri (seperti kepala ain). Di bawah ini akan dijelaskan cara penulisan hamzah dalam kaidah imla' dan juga rasm utsmani.
Abstract Rasm utsmani adalah jenis tulisan Al-Qur’an yang secara khusus diatur oleh Usman bin Affan pada masanya berdasarkan pelafalan qira'ah Al-Qur'an yang berbeda. Hingga hari ini, ada banyak pendapat tentang hukum penulisan Al-Qur'an di Rasm Utsmani. Yang pertama adalah kewajiban, karena Rasm Utsmani dikategorikan tauqifi, yang kedua tidak wajib berdasarkan pada Khat Rasm Utsmani, karena itu bukan tauqifi, yang ketiga adalah bahwa itu dapat ditulis berdasarkan peraturan arabiyyah dan sharfiyah, tetapi harus didasarkan pada Mushaf Al-Qur'an yang ditulis dalam Khat Rasm Utsmani saat dokumen disimpan. Berdasarkan pernyataan di atas, penelitian ini dilakukan untuk memeriksa dan menggambarkan konsep Rasm Utsmani dalam Mushaf al-qur'an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan adalah studi literatur. Berdasarkan hasil, penelitian ini membahas tentang sejarah, regulasi dan penulisan Al-Qur'an dalam Rasm Utsmani. Karena diskusi sering terjadi pendapat yang berbeda di antara para ulama 'misalnya dalam konteks kelayakan penulisan di mana konsep penulisan Rasm Utsmani memiliki tiga kategori yaitu kesesuaian sepenuhnya, kesesuaian pemikiran, dan kesesuaian probabilitas, sehingga tidak sepenuhnya lengkap. sama. Prinsip itu diperlukan sebagai sumber pembacaan-penulisan Al-Qur'an. PDF Bahasa Indonesia How to Cite Fathul Amin. 2020. KAIDAH RASM UTSMANI DALAM MUSHAF AL-QUR’AN INDONESIA SEBAGAI SUMBER BELAJAR BACA TULIS AL-QUR’AN. Tadris Jurnal Penelitian Dan Pemikiran Pendidikan Islam, 141, 72-91.
RasmUtsmani merupakan rasm khusus yang digunakan dalam penulisan ayat Al-Qur'an atau mushaf, sedangkan dalam penulisan harian tidak dipergunakan karena bentuk penulisannya yang berbeda dari kaidah imla. Kecuali pada beberapa kalimat dan kata yang sering digunakan dalam keseharian. Seperti kalimat: ( (بسم الله الرحمن الرحيم Uploaded bySiti Najihan 100% found this document useful 4 votes4K views24 pagesOriginal TitleKaedah Al-ibdal Dalam Penulisan Al-quran Rasm UthmaniCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsPPTX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document100% found this document useful 4 votes4K views24 pagesKaedah Al-Ibdal Dalam Penulisan Al-Quran Rasm UthmaniOriginal TitleKaedah Al-ibdal Dalam Penulisan Al-quran Rasm UthmaniUploaded bySiti Najihan Full description
PDF| Rasm 'Utsmānī is a model for writing the Koran which was agreed during the Khalifah "Utsmān bin 'Affān by copying the manuscripts that had been | Find, read and cite all the research
Rasm utsmani adalah jenis tulisan Al-Qur’an yang secara khusus diatur oleh Usman bin Affan pada masanya berdasarkan pelafalan qira'ah Al-Qur'an yang berbeda. Hingga hari ini, ada banyak pendapat tentang hukum penulisan Al-Qur'an di Rasm Utsmani. Yang pertama adalah kewajiban, karena Rasm Utsmani dikategorikan tauqifi, yang kedua tidak wajib berdasarkan pada Khat Rasm Utsmani, karena itu bukan tauqifi, yang ketiga adalah bahwa itu dapat ditulis berdasarkan peraturan arabiyyah dan sharfiyah, tetapi harus didasarkan pada Mushaf Al-Qur'an yang ditulis dalam Khat Rasm Utsmani saat dokumen disimpan. Berdasarkan pernyataan di atas, penelitian ini dilakukan untuk memeriksa dan menggambarkan konsep Rasm Utsmani dalam Mushaf al-qur'an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang digunakan adalah studi literatur. Berdasarkan hasil, penelitian ini membahas tentang sejarah, regulasi dan penulisan Al-Qur'an dalam Rasm Utsmani. Karena diskusi sering terjadi pendapat yang berbeda di antara para ulama 'misalnya dalam konteks kelayakan penulisan di mana konsep penulisan Rasm Utsmani memiliki tiga kategori yaitu kesesuaian sepenuhnya, kesesuaian pemikiran, dan kesesuaian probabilitas, sehingga tidak sepenuhnya lengkap. sama. Prinsip itu diperlukan sebagai sumber pembacaan-penulisan Al-Qur'an. To read the full-text of this research, you can request a copy directly from the IstiqomahThe use of the digital Qur'an is growing rapidly in the midst of society. The emergence of the digital Qur'an makes it easier for people to access the Qur'an by simply opening it from their mobile phone. This requires attention from academics, especially in the fields of the Qur'an and interpretation. In Indonesia, there are already agreed standard manuscripts, namely mus}h{af bah}riyyah dan mus}h{af bombay manuscripts. Both manuscripts follow the rules of the Ottoman Empire. In this study, we will analyze the rasm and sources of interpretation used by one of the digital applications, namely the Qur'an free. The aim is to describe the characteristics of this application. This research is a type of library research. The method used is a qualitative method. This study will compare the rasm in the application of the Qur'an free with some authoritative data regarding the Ottoman theory of race and those related to standardization theory prevailing in Indonesia. The results of this study are the application of the Qur'an free following the Ottoman Empire. Furthermore, the source of interpretation used in this application is al-Muntakhab fi> tafsi>r al-Qur’a>n al-kari>m which is the interpretation of the ministry of religion in FitraLia ListianaThis study is entitled Civilization of the Formation of the Al-Qur'an Mushaf History of the Formation of the Ustmani Mushaf, the discussion is the history of the formation of the Ottoman rasam, while the purpose of this study is to find out how the struggles to be able to launch the Ottoman Mushaf after the Muslim debate occurred because of the different ways. the reading of the holy verses of the Qur'an in the hope of adding knowledge and insight to the reader, the methodology or approach used in library research, while data collection is carried out by analyzing data/exploring several journals/books and documents both in print or electronic form as well as other sources of data or information deemed relevant to the research or study. The discussion in this study is related to the bookkeeping of the Ottoman manuscripts which was motivated by differences of opinion in reading the Qur'an to Muslims, the policy of the Uthman caliph to record the manuscripts and become the Ottoman manuscripts, after finishing the opening of the Uthman caliph, he read the final manuscript in front of his friends, and burned other manuscripts, and caliph Umar sent copies of the Ottoman manuscripts to various Islamic regions and included them with their reciters. In writing, there are still differences of opinion among scholars' taufiqi or ijtihad scholars'. Keywords Al-Qur'an Mushaf, Ottoman Mushaf, Civilization, HistoryMisnawati MisnawatiRasm 'Utsmānī is a model for writing the Koran which was agreed during the Khalifah "Utsmān bin 'Affān by copying the manuscripts that had been collected at the time of Khalifah Abu Bakr al Shiddīq into several manuscripts. Then the manuscripts sent to various Islamic areas along with the qurrā` to be used as guidelines by the Muslims. Scholars have different views regarding the 'Utsmāni rasm as something that must be followed or not. Scholars have three opinions. First, Rasm 'Utsmān is tauqifī based on guidance from the Prophet SAW and cannot violate it and must be followed by Muslims. Second, Rasm 'Utsmān is ijtihad but still must be followed by Muslims and must not violate it. Third, Rasm 'Utsmān is just a given term which may be violated if it is agreed by a generation to use another model of rasm. There are several rules contained in this 'Utsmānī rasm, one of them is the al hazf letter removal rule. The rules of al-hazf are broadly divided into three, such as hazf isyārah, hazf ikhtishār, and hazf iqtishār. From these three models, it can be seen that some letters were discarded, namely alif, waw, yā`, lām, and nun. Each of these letters has its own provisions in its writing in the Qur'an and has secrets that can be known through in-depth study. ABSTRAK Rasm Utsmānī merupakan model penulisan al-Qur`an yang disepakati pada masa Khalifah “Utsmān bin Affān dengan menyalin mushaf yang telah dikumpulkan pada masa Khalifah Abu Bakar al Shiddīq ke dalam beberapa mushāf. Lalu dikirim ke berbagai wilayah Islam bersama dengan para qurrā` untuk dijadikan pedoman oleh kaum muslimin. Ulama berbeda pandangan dalam melihat rasm Utsmāni sebagai sesuatu yang wajib diikuti atau tidak. Ada tiga pendapat ulama. Pertama, Rasm Utsmānī bersifat tauqīfī berdasarkan bimbingan dari Nabi SAW dan tidak boleh menyalahinya serta wajib diikuti oleh kaum muslimin. Kedua, Rasm Utsmānī bersifat ijtihad namun tetap wajib diikuti oleh kaum muslimin serta tidak boleh menyalahinya. Ketiga, Rasm Utsmānī hanyalah sebuah istilah yang diberikan yang boleh saja menyalahinya jika memang disepakati oleh suatu generasi untuk menggunakan model rasm yang lain. Ada beberapa kaidah yang terdapat dalam rasm Utsmānī ini, salah satunya adalah kaidah al hazf pembuangan huruf. Kaidah al hazf ini secara garis besar terbagi tiga yaitu hazf isyārah, hazf ikhtishār, dan hazf iqtishār. Dari ketiga model ini terlihat ada beberapa huruf yang dibuang yaitu alif, waw, yā`, lām, dan nūn. Masing- masing huruf tersebut memiliki ketentuan- ketentuan tersendiri dalam penulisannya dalam al-Qur`an dan mempunyai rahasia yang dapat diketahui melalui kajian yang has not been able to resolve any references for this publication.
Karenanya, penulisan Al-Qur'an dapat ditulis dengan huruf manapun yang memudahkan masyarakat awam, namun Rasm Utsmaniy tetap dianjurkan untuk
Al-Quran merupakan kitab suci Umat Islam, yang salah satu fungsinya adalah petunjuk bagi seluruh umat manusia. Sedemikian penting nya al-Quran, membuat al-Quran terus terjaga dan dijaga keotentikan nya hingga hari kiamat nanti. Salah satu cara untuk menjaga keotentikan al-Quran adalah dengan cara tulisan. Al-Quran ditulis dalam lembaran kertas dan kemudian dinamakan Mushaf al-Quran. Penulisan al-Quran dalam mushaf, terdapat perbedaan dalam penulisan rasm nya. Dewasa ini, kesadaran umat muslim akan penggunaan mushaf Quran yang memakai Rasm khusus penulisan al-Quran yang kemudian disebut Rasm Utsmani terus meningkat. Maka dari itu, dalam artikel ini akan dijelaskan pengertian dari rasm, macam-macamnya, hingga pembahasan mengenai Rasm Utsmani secara singkat. Pengertian Rasm dan Jenis-Jenis Rasm Secara bahasa, Rasm berarti bekas, penginggalan, sisa, atau tulisan. Sedangkan secara istilah, Rasm adalah tulisan kata kalimah yang dibentuk dari susunan huruf hijaiah. Atau dengan kata lain, Rasm adalah penulisan batang tubuh sebuah tulisan Arab berupa susunan huruf yang membentuk sebuah kata. Rasm berbeda dengan Dhabt atau syakl. Begitu juga berbeda dengan Khat. Dhabt dan syakl membahas tanda baca berupa titik huruf dan harakat. Sedangkan, khat berfokus pada gaya penulisan Arab misalnya khat naskhi, kufi, dan lain-lain. Dari pengertian di atas, selanjutnya Rasm terbagi menjadi 3 jenis yaitu Rasm Qiyasi, Rasm Arudhi, dan Rasm Utsmani. Rasm Qiyasi atau juga sering disebut dengan Rasm Imla`i merupakan cara penulisan yang menekankan penyesuaian ucapan dan tulisan. Sedangkan Rasm Arudhi adalah cara penulisan yang menekankan pada ukuran atau kaidah syair-syair Arab. Sedangkan Rasm Utsmani adalah cara penulisan yang bersumber pada cara penulisan pada zaman khalifah Utsman. Pengantar Rasm Utsmani Sebagaimana disebutkan di atas, Rasm Utsmani adalah cara penulisan yang bersumber pada cara penulisan pada zaman khalifah Utsman. Oleh karena nya, ia dinamakan Rasm Utsmani karena dipelopori khalifah Utsman. Apa yang istimewa dari cara penulisan khalifah Utsman? Pada waktu itu, seluruh al-Quran dikumpulkan oleh khalifah Utsman dan dilakukan penyatuan unifikasi tulisan al-Quran. Tujuan nya adalah ingin mempersatukan mushaf yang ada. Penyatuan berupa tulisan al-Quran itu bukan lah hal sembarangan dan asal-asalan. Dilakukan oleh tim khusus dan dibuatlah standar yang ketat demi menjaga keotentikan al-Quran. Penulisan al-Quran itulah yang kemudian dinamakan Rasm Utsmani. Penggunaan Rasm Utsmani dalam setiap penulisan al-Quran kemudian menjadi syarat untuk pembuatan mushaf terdapat perbedaan dan juga menjadi syarat dari qiraah bacaan yang mutawatir. Hingga hari ini, Rasm Utsmani semakin mendapat perhatian. Rasm Utsmani menjadi suatu disipilin ilmu mandiri dan dikaji para akademisi. Para Ulama juga membuat kaidah-kaidah Rasm Utsmani untuk membantu pemahaman terhadap Rasm Ustmani. Baca juga 6 Kaidah Singkat Rasm Ustmani Madzhab Rasm Utsmani Kesadaran masyarakat terhadap Rasm Utsmani, sebagian tidak dibarengi dengan pengetahuan terhadap Ilmu Rasm Utsmani. Akibatnya, sebagian masyarakat yang belum memahami Ilmu Rasm Utsmani kemudian mengklaim mushaf nya yang paling sesuai dengan Rasm Utsmani. Hal seperti itu tentu tidak sesuai dengan Ilmu Rasm Utsmani dan malah mempersempit penggunaan Rasm Utsmani. Mengapa demikian? Karena di dalam Rasm Utsmani, terdapat banyak Ulama pemerhati Rasm Utsmani yang membuat panduan Rasm Utsmani. Di antara para Ulama dengan nama kitab nya yang membahas mengenai Rasm Utsmani adalah sebagai berikut Ad-Dani kitabnya berjudul al-Muqni Abu Dawud kitabnya berjudul at-Tanzil Al-Balansi kitabnya berjudul Al-Munsif As-Syathibi kitabnya berjudul Aqilat al-Atrab Al-Kharraz kitabnya berjudul Mawrid az-Zaman dan masih banyak lagi Kesemuanya menjelaskan bagaimana penulisan al-Quran pada zaman khalifah Utsman. Dan antara satu sama lain, beberapa ada yang sama dan beberapa ada yang berbeda. Artinya Rasm Utsmani juga memiliki madzhab nya masing-masing. Yang populer dalam dunia Rasm Utsmani adalah Ad-Dani dan Abu Dawud. Keduanya bahkan disebut sebagai Syaikhan 2 syekh dalam Rasm Utsmani. Sebagaimana syikhan dalam bidang ilmu lainnya, misalnya Syaikhan dalam hadits yaitu Bukhari dan Muslim. Dewasa ini, mushaf yang banyak digunakan, misalnya antara Mushaf Standar Indonesia dan Mushaf Standar Madinah juga berbeda dalam pengguanaan Rasm Utsmani nya. Mushaf Standar Indonesia lebih cenderung kepada pendapat Ad-Dani, sedangkan Mushaf Madinah cenderung ke pendapat Abu Dawud. Contoh Perbedaan Rasm Utsmani Berikut ini adalah sedikit contoh-contoh dari perbedaan Rasm Utsmani antara Ad-Dani dan Abu Dawud 1. Kata طُغْيَانِهِمْ dalam QS al-Baqarah ayat 15 اللَّهُ يَسْتَهْزِئُ بِهِمْ وَيَمُدُّهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ Pada kata طُغْيَانِهِمْ Ad-Dani menggunakan isbat tetap ada alif. Sedangkan Abu Dawud menggunakan hadzf membuang alif. 2. Kata تِجَارَتُهُمْ dalam QS Al-Baqarah ayat 16 أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ فَمَا رَبِحَتْ تِجَارَتُهُمْ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ Pada kata تِجَارَتُهُمْ Ad-Dani menggunakan isbat tetap ada alif. Sedangkan Abu Dawud menggunakan hadzf membuang alif. 3. Kata الصَّوَاعِقِ dalam QS Al-Baqarah ayat 19 أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ Pada kata الصَّوَاعِقِ Ad-Dani menggunakan isbat tetap ada alif. Sedangkan Abu Dawud menggunakan hadzf membuang alif. Setidaknya itu yang menjadi rumusan kaidah ilmu rasm Utsmani yang masyhur.Pertama, membuang huruf (hadhf); kedua, menambahkan huruf (al-Ziyadah); ketiga, penulisan hamzah; keempat, pergantian huruf (al-Badal); kelima, kata yang disambung dan diputus penulisannya (al-fasl wa al-wasl); dan keenam, penulisan salah satu dari dua qira'at yang tidak bisa disatukan tulisannya (ma fihi qira'atani
29 Juli 2020 Rasm Utsmani adalah cara penulisan Alquran yang dibakukan pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan 25 H. Cara ini dalam beberapa hal berbeda dengan kaidah penulisan Arab konvensional. Tulisan Alquran sebagai disiplin ilmu berbeda-berbeda dengan Alquran dalam qira’at. Karena itu, riwayat penulisannya pun tidak tunggal. Selain dua nama al-Dani dan Abu Dawud di atas, terdapat berderet nama penting yang menjadikan ilmu ini mandiri di luar kajian umum ulum Alquran. Dari karya-karyanya yang masih bisa dilihat sampai sekarang, antara lain, Ibn Abu Dawud w 316 H dalam karyanya al-Mashahif, al-Mahdawi w 430 H dalam karyanya Hija’ al-Mashahif al-Amshar, al-Balansi w 563 H dalam karyanya al-Munsif, al-Syatibi w 590 H dalam karyanya Aqilat al-Atrab, dan al-Sakhawi w 643 H dalam karyanya al-Wasilah. Menurut Qadduri, disiplin rasm Utsmani berbeda dengan ilmu kaligrafi. Kajian rasm Utsmani sangat terkait aspek bahasa, maka sebagaimana dikemukakan al-Suyuthi w 911 H, semua penulisannya pun terkait kaidah kebahasaan. Setidaknya, itu yang menjadi rumusan kaidah ilmu rasm Utsmani yang masyhur. Pertama, membuang huruf hadhf; kedua, menambahkan huruf al-Ziyadah; ketiga, penulisan hamzah; keempat, pergantian huruf al-Badal; kelima, kata yang disambung dan diputus penulisannya al-fasl wa al-wasl; dan keenam, penulisan salah satu dari dua qira’at yang tidak bisa disatukan tulisannya ma fihi qira’atani wa kutiba ala ihdahuma. Contoh-contoh sederhana dalam enam kaidah di atas, antara lain, pertama membuang huruf, misalnya penulisan kata al-alamin dalam rasm ditulis dengan tanpa alif setelah huruf ain. Kedua, menambahkan huruf, misalnya penulisan kata mulaqu rabbihim yang tidak disertai alif bentuk jamak dalam rasm ditambahkan alif setelah waw. Ketiga, pergantian huruf, misalnya penulisan kata al-hayat dalam rasm ditulis dengan pergantian alif dengan waw. Keempat, kata yang disambung dan diputus penulisannya, seperti pada kata an la dalam rasm terkadang ditulis disambung menjadi alla. Sedangkan kelima, penulisan salah satu dari dua qira’at yang tidak bisa disatukan tulisannya, misalnya bacaan Hafs pada QS al-Baqarah [2]132 yang dibaca wawassha karena mengikuti riwayat Qalun maka ditulis menjadi wa awsha. Dari semua contoh tersebut bacaannya sama, hanya cara penulisan rasm-nya yang berbeda. Dari semua kaidah tersebut, rasm Utsmani Mushaf Alquran Standar Indonesia setelah ditelaah ulang dan dikaji oleh tim internal LPMQ dengan melibatkan ulama Alquran dari dalam dan luar negeri, hasilnya muncul kesepakatan untuk menyempurnakan kaedah dan panduan penulisan 186 kata, yang sama sekali tidak berpengaruh pada makna atau orisinalitas Alquran itu sendiri. Karena dalam beberapa tempat sudah sesuai dengan riwayat al-Dani. Tokoh-tokoh luar negeri yang diundang pun kompeten di bidangnya, seperti Prof Dr Abdul Karim Mesir, Prof Dr Samih Athaminah Yordania, Prof Dr Miyan Tahanawi Pakistan, dan Dr Zain el-Abidin Mujamma’ Malik Fahd Madinah. Demikian, Wallahu a’lam. Sumber
Demikianpenjelasan yang disarikan dari kitab Manâhil 'Irfân fî Ulûmil Qur'ân (Kairo: Maktabah Isa Al-Halabi, tt. h. 369). Perlu diketahui bahwa kaidah penulisan yang telah disebutkan di atas, tidak sepenuhnya berlaku pada penulisan Al-Qur'an, sebab ada banyak lafadz-lafadz dalam Al-Qur'an yang pada suatu ayat ditulis dengan pola tertentu, tetapi pada ayat yang lain—padahal Dalam kajian ilmu rasm al-Qur’an, pelajar mungkin akan terbawa pada sebuah kesimpulan di mana rasm merupakan model penulisan yang keluar’ dari pakem penulisan umum. Kesimpulan sementara ini bisa jadi benar melihat fakta banyaknya model penulisan rasm yang benar-benar keluar’ dari pakem penulisan umum bahasa Arab. Namun benarkah demikian? Mari kita runut dari awal sejarah penulisan. Aktifitas menulis telah mengambil bagian dari sejarah panjang perkembangan kebudayaan umat manusia. Dalam fase kebudayaan ini, ia menempati tahapan kedua setelah sebelumnya umat manusia menggunakan media lisan oral dalam proses interaksinya. Media lisan ini menghasilkan bunyi atau suara tertentu yang bisa jadi berbeda antara sekelompok manusia dengan kelompok yang lain. Suara yang dihasilkan ini lebih akrab kita sebut dengan istilah bahasa’. Merasa menemukan keterbatasan dalam bahasa lisan, umat manusia kemudian berusaha menciptakan media baru yang kemudian disebut dengan menulis’. Menulis secara nyata memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahasa lisan. Ia dapat mengabadikan aneka ragam hasil kebudayaan manusia jauh melewati batas waktu dengan tetap menjaga kualitas rekamnya. Sehingga sebuah komunitas manusia dapat lebih menjaga eksistensinya melalui menulis ini. Tulisan adalah produk dari aktifitas ini. Ia adalah kumpulan dari simbol-simbol bahasa. Ia berupaya melakukan transfer visualisasi suara yang tak kasat mata menjadi simbol yang terlihat jelas dengan mata. Maka dari itu, setiap simbol tulis yang dihasilkan sudah seharusnya mewakili suara bahasa yang ada, tidak boleh kurang atau lebih. Konsep kesesuaian ini lah yang kita akui sebagai acuan dasar dalam penulisan. Keberbedaan dalam Bahasa dan Tulisan Namun demikian, faktanya tidak semua bahasa lisan selalu mengalami kesesuaian dengan simbol tulisannya. Ghanim Qadduri al-Hamad dalam bukunya, Rasm al-Mushaf Dirasah Lughawiyyah Tarikhiyyah, menyebutkan adanya fenomena keberbedaan dalam bahasa dan tulisan. Menurutnya fenomena keberbedaan itu tidak keluar dari tiga macam, yaitu simbol tulisan yang tidak diimbangi dengan suara, simbol tulisan yang tidak sesuai dengan suara yang dihasilkan, dan suara yang tidak ditemukan padanannya dalam simbol tulisan. Fenomena keberbedaan ini, kata Ghanim, tidak hanya terjadi pada bahasa Arab saja. Kita dapat menemukan fenomena serupa dalam bahasa lain di berbagai belahan dunia, Inggris, misalnya. Bahasa yang menjadi lughat internasional ini kebetulan memiliki banyak kosa kata yang mewakili masing-masing fenomena keberbedaan yang ada. Kata write menjadi contoh fenomena pertama sekaligus kedua. Jika kita menyuarakan kata ini, simbol huruf w tidak akan kita jumpai dalam suara tersebut. Sebagaimana simbol huruf i memiliki kualitas suara yang berbeda ketika terbaca ai. Berdasar pada asas keberbedaan ini, Al-Farmawy juga menyangsikan konsep kesesuaian yang ada antara suara bahasa dengan simbol tulisan. Maka dalam pembagian sistem penulisan bahasa Arab menjadi tiga macam tulisan baca rasm imla’i, tulisan arudli, dan tulisan usmani boleh jadi tidak berdasar pada konsepsi ini. Antara Rasm Imla’i dan Usmani Sementara itu, dalam kajian penulisan bahasa Arab, usmani menjadi tersangka’ utama keluarnya penulisan dari pakem umum. Ia banyak menyimpan anomali-anomali. Sedangkan imlai dipandang sebagai rasm yang benar karena ia merupakan representasi penulisan umum suara bahasa Arab. Padahal tidak demikian. Dalam tulisan imla’i kita juga akan mendapat fenomena keberbedaan yang sama, sebagaimana terjadi dalam tulisan usmani. Penulisan kata lakinna لكن dan ula’ika أولئك ternyata juga menyuratkan adanya fenomena keberbedaan bahasa dan penulisan. Dalam kata pertama simbol huruf lam sudah semestinya diikuti dengan simbol huruf alif untuk mengindikasikan adanya suara panjang, berkebalikan dengan simbol huruf waw yang semestinya hilang karena ia tidak mencerminkan suara bahasa apa pun dalam kata kedua. Maka dari sini, tidak benar jika dikatakan hanya rasm usmani yang keluar dari pakem kaidah penulisan. Selain karena ulasan sebelumnya, fakta bahwa rasm usmani memiliki banyak penulisan yang sesuai dengan suara bahasa memang tidak pernah disebutkan, karena hanya menitikberatkan pada aspek keberbedaannya saja. Mungkin hal ini yang mendasari klasifikasi tulisan rasm dalam bahasa Arab, kualitas dan kuantitas keberbedaan yang dimiliki oleh masing-masing tulisan. Wallahu a’lam bisshawab. Editor M. Bukhari Muslim Secarasingkat, Ilmu Rasm Utsmani adalah ilmu yang membahas tata cara struktur penulisan al-Quran atau berkaitan dengan huruf-hurufnya. 1. Mengenal Ilmu Rasm Utsmani 1.1 Pengertian Ilmu Rasm Utsmani 1.2 Sejarah Penulisan Mushaf 2. Kaidah Pertama : al-Hadzf 3. Kaidah Kedua : az-Ziyadah 4. Kaidah Ketiga : Hamzah 5. Kaidah Keempat : al-Ibdal 6
CONTOH 6 KAIDAH RASM UTSMANI SINGKAT Seringkali kita mendengar istilah Rasm Utsmani saat berhadapan dengan mushaf Al-Quran. Tahukah Anda bahwa Rasm Utsmani secara singkat adalah metode penulisan Al-Quran. Dan rasm utsmani memiliki disiplin ilmu tersendiri. Ilmu Rasm Utsmani akhir-akhir ini semakin mendapat perhatian. Terutama banyak percetakan mushaf al-Quran yang menambahkan embel-embel "bi Rasm Utsmani" dengan Rasm Utsmani di sampulnya. Apa sebenarnya maksud dan fungsi dari Rasm Utsmani? Jawabannya akan dibuatkan artikel tersendiri. Pada artikel kali ini, penulis secara singkat ingin memperkenalkan 6 kaidah rumus umum yang terdapat dalam ilmu Rasm Utsmani. 1. Hadzf Kaidah Al-Hadzf الْحَذْفُ adalah kaidah yang membuang huruf. Di dalam penulisan al-Quran terdapat beberapa huruf yang dibuang dengan mengikuti kaidah hadzf. Adapun huruf-huruf yang dibuang ada 5 yaitu alif, wawu, ya', lam, dan nun. Contoh alif yang dibuang Contoh wawu yang dibuang لَّا يَسْتَوُنَ - لَّا يَسْتَوُونَ Contoh ya' yang dibuang إِلَّا لِيَعْبُدُونِ - إِلَّا لِيَعْبُدُونِي Contoh lam yang dibuang Contoh nun yang dibuang 2. Ziyadah Kaidah yang kedua adalah Az-Ziyadah الْزِّيَادَة. Yang dimaksud dengan ziyadah adalah menambahkan huruf. Adapun huruf yang ditambah bisa berupa alif, wawu, dan ya'. Berikut masing-masing contohnya Contoh alif tambahan لَن نَّدْعُوَ - لَن نَّدْعُوَا Contoh wawu tambahan Contoh ya' tambahan 3. Hamzah Penulisan hamzah juga memiliki kaidah tersendiri dalam Rasm Utsmani. Setidaknya penulisan hamzah terbagi menjadi 4 bentuk yaitu alif, wawu, ya', dan tanpa bentuk. Berikut masing-masing contohnya Hamzah berbentuk alif Hamzah berbentuk wawu Hamzah berbentuk ya' Hamzah tidak berbentuk diberi tanda baca kepala ain 4. Badal Yang dimaksud dengan badal الْبَدْلُ adalah mengganti huruf. Salah satu contoh kaidah badal adalah mengganti alif dengan wawu, mengganti nun taukid dengan alif, dan lain-lain. Adapun contohnya adalah Mengganti alif dengan wawuصَلَاة - صَلَوة Mengganti nun taukid dengan alifإِذَنْ - إِذًا 5. Washl wa Fashl Kaidah Washl dan Fashl adalah mengenai cara penulisan disambung atau terpisah. Terdapat beberapa kata yang kadang disambung dan kadang dipisah. Berikut contoh-contohnyaمِنْ مَا – مِمَّا أَمْ مَنْ – أَمَّنْ بِئْسَمَا 6. Lafaz Yang memiliki 2 qiraat Kaidah terakhir adalah apabila sebuah kata lafaz memiliki lebih dari satu macam bacaan maka dipilih yang masyhur atau dipilih salah satunya. Adapun salah satu contohnya adalah sebagai berikutمَلِكِ Kata di atas terdapat dalam QS Al-Fatihah ayat 4 dan memiliki 2 model bacaan yaitu bisa مَلِكِ dan مَالِكِ maka dipilih salah satu yaitu kata مَلِكِ karena secara rasm masih bisa mewakili keduanya.
SedangkanRasm Isthilahi adalah kaidah penulisan yang hanya ada pada Mushaf al-Qur'an, dikenal juga dengan Rasm Utsmani, disandarkan kepada Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu atas gagasan beliau dalam pembukuan al-Qur'an. Pada dasarnya Rasm Utsmani ini berkesesuaian dengan Rasm Qiyasi, hanya saja dalam beberapa hal terdapat perbedaan, dan itu tidak banyak.
Kaidah Dan Qanun Rasm Utsmani0% found this document useful 0 votes3 views9 pagesOriginal TitleKaidah_Dan_Qanun_Rasm_Utsmani[2]Copyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes3 views9 pagesKaidah Dan Qanun Rasm UtsmaniOriginal TitleKaidah_Dan_Qanun_Rasm_Utsmani[2] ^KOEQEL SK^ EB-U[QEI CEI QE^J [S^JEIG Cmski Xkidejpu ? Cr.,Elsgi Tgoeye.,Ebl., Mbkl ? Gsaelub Juigr 18188. ^ktkbel Qesububbel wefet, `kpkjgjpgiei cgejagb ebgl mbkl seleaetEau Ae`er 6>1-6>3 J yeid pece seet gtu tkroecg pkreid Wejejel telui 51 L ckidei Jusegbgjel eb-eczezea yeid jkide`u cgrgiye skaedeg Ieag. Xece pkreid tkrskaut aeiye` pere seleaet yeid dudur syelgc, cebej setu rgweyet jkinepeg 48 mreid, rgweyet begi ;88 mreid, `kjucgei jkiurut jeftul 57 Xedk
Apa itu Rasm Usmani? Rasm usmani adalah cara penulisan Al-Qur'an yang dibakukan pada masa Khalifah Usman bin Affan (25 H/ 646 M). Cara ini dalam beberapa hal berbeda dengan kaidah penulisan Arab konvensional. Tulisan Al-Qur'an sebagai disiplin ilmu berbeda dengan Al-Qur'an dalam qira'at.
Rasm yang terletak dalam Mushaf Utsmani merupakan salah satu rahasia dalam penulisan mushaf Al-Qur’an, terkait beberapa kalimat dalam Al-Qur’an. Para sahabat menulis Mushaf Utsmani dengan model khusus yang berbeda dari kaidah penulisan imla, yang meliputi kaidah penghapusan hadzf, penambahan ziyadah, penulisan ha hamz, penggantian badal, penyambungan Washl, pemisahan Fasl. Masih tentang Rasm ini, ada baiknya Anda merujuk kembali artikel tentang hubungan rasm dengan Qiraat serta contohnya dalam mengenai Rasm Utsmani tidak akan pernah terlepas dari Mushaf Utsmani itu sendiri. Mushaf Utsmani ditulis pada era Utsman bin Affan sebagai kodifikasi Al-Qur’an yang ketiga, melihat banyaknya umat Islam kala itu yang saling menyalahkan bacaan antara satu dengan yang lainnya. Tidak hanya itu, sebagian orang bahkan mengkafirkan sebagian yang lain akibat perbedaan bacaan dan sedikitnya pengetahuan umat tentang bacaan Al-Qur’an yang diturunkan dengan lahjah yang lain. Oleh karena itu, Utsman bin Affan meminta Zaid bin Tsabit untuk menuliskan kembali Al-Qur’an dengan satu lahjah, yaitu lahjah Quraisy. Setelah proses pentashihan yang panjang hingga dibentuk tim kodifikasi Al-Qur’an, mushaf yang dituliskan oleh Zaid disebar ke berbagai kota. Mushaf ini kemudian disebut sebagai mushaf Utsmani hingga sekarang karena penulisannya dilakukan pada era Utsman bin Affan atas Al-Qur’an yang disebarkan menggunakan satu lahjah yang telah disepakati, penulisan yang digunakan pada tiap mushaf yang disebarkan pun menggunakan satu model Rasm, yang selanjutnya disebut dengan Rasm Mushaf Utsmani, agar umat Islam dapat membaca Al-Qur’an melalui satu bentuk tulisan. Karena, perbedaan qiraat akan menyebabkan perbedaan rasm yang ditulis. Oleh karena itu, Utsman bin Affan mengirimkan imam kepada masing-masing kota untuk mengajarkan tentang cara pembacaan mushaf Utsmani dengan rasmnya. Untuk itulah, penulisan Al-Qur’an pada masa setelahnya wajib mengikuti Rasm ini dilakukan melihat perbedaan tulisan dan rasm pada beberapa mushaf sebelum masa kodifikasi Utsman. Diantaranya penulisan لئن أنجانا dalam surah Al-An’am yang ditulis menggunakan alif pada mushaf Kufi, sedangkan pada mushaf lainnya menggunakan huruf ta setelah ya أنجيتنا. Perbedaan yang lain ditemukan dalam ayat كانوا أشدهم منهم قوة pada beberapa mushaf, sedangkan dalam mushaf Syami ditulis dengan menggunakan kaf منكم. Dan beberapa kalimat lain seperti menghilangkan alif pada kaidah yang semestinya, mengganti ya dengan alif dan perbedaan pendapan mengenai rasm Utsmani, sebagian mengatakan itu merupakan bentuk ijtihat sahabat. Pendapat yang lain mengatakan bahwa pada masa Rasulullah SAW, Rasulullah SAW sendiri yang mendiktekan Zaid bin Rsabit dalam penulisan Al-Qur’an melalui talqin dari Jibril alaihi salam. Seperti penulisan wakhsyaunii dalam surah Al-Maidah ditulis dengan huruf ya’ sedangkan dalam surah Al-Maidah dengan menghapusnya ya pada dua tempat di dalamnya. Sedangkan dalam riwayat lain mengatakan bahwa penulisan rasm Utsmani sesuai talaqi dengan Rasulullah pada masa kodifikasi awal, bukan bentukan baru yang dibuat sahabat terkait hukumnya, tidak ada perbedaan pendapat antara para ulama Semuanya sepakat bahwa penulisan ayat A-Qur’an wajib mengikuti rasm mushaf Utsmani, khususnya bagi mereka yang awan terhadap qiraat yang berbeda dalam Al-Qur’an. Dalam hal ini, Baihaqi mengatakan bahwa siapa saja yang ingin menulis mushaf, maka ia harus mengikuti penulisan yang tertulis di dalamnya, dalam hal ini berarti rasm mushaf Utsmani. Sedangkan untuk anak kecil yang sedang belajar Al-Qur’an, sebagian ulama memperbolehkan untuk tidak mengikuti rasm Utsmani agar mempermudah dalam Thahir menuliskan dalam bukunya Tarikhul Qur’an wa Gharaib Rasmihi tentang tiga kelebihan dalam pemakaian rasm Utsmani. Pertama, membantu umat khususnya era modern dalam tata cara penulisan mushaf. Kedua, menghindari keraguaan dalam penulisan dalam lahjah yang berbeda seperti yang dituliskan sebelumnya. Ketiga, untuk mengetahui makna yang harus dipotong atau disambung dalam beberapa kalimat Al-Qur’ satu bentuk rasm utsmani dapat dilihat dari penulisan basmalah yang menghilangkan 3 alif di dalamnya. Pertama, alif dalam penulisan بسم kedua alif dalam penulisan الله ketiga alif dalam penulisan الرحمن, dengan bacaan sesuai dengan kaidah mad dalam pekaidah penulisan yang kita tahu, yaitu باسم اللاه الرحمان lainnya dapat dilihat dari kalimat الملئكة, الإنسن, الشيطن, الصرط, العلمين dengan menghilangkan alif dan digantikan dengan tanda mad disetiap huruf yang dibaca rasm Utsmani juga ditemukan beberapa bentuk penulisan asing, sepertiRasm pada kalimatأفإين مات ditulis dengan penambahan huruf ya sebelum nunRasm pada kalimat والسماء بنينها بأييد dan kalimat بأييكم ditulis dengan dua huruf ya pada dua kata yang pada kalimat سأوريكم دار الفيقين ditulis dengan menambahkan huruf wawu setelah alifRasm pada kalimat وجايء يومئذ بجهنم dengan menambahkan hurud alif setelah jim. Dan masih terdapat beberapa penulisan asing dalam rasm Utsmani. Untuk itu, Muhammad Thahir dalam bukunya secara khusus menjelaskan secara terperinci mengenai ayat-ayat yang tertulis menggunakan rasm Utsmani merupakan rasm khusus yang digunakan dalam penulisan ayat Al-Qur’an atau mushaf, sedangkan dalam penulisan harian tidak dipergunakan karena bentuk penulisannya yang berbeda dari kaidah imla. Kecuali pada beberapa kalimat dan kata yang sering digunakan dalam keseharian. Seperti kalimat بسم الله الرحمن الرحيم, لا إله إلا الله, الله, ذلك, هأنتم, هؤلاء dan lainnya, menggantikan tulisan dalam kaidah imla, seperti باسم اللاه الرحمان الرحيم, لا إلاه إلا اللاه, اللاه, هاذا, ذالك, ها أنتم, ها ألاء.Melihat penulisan mushaf yang ditulis dengan rasm Utsmani berbeda dengan penulisan kaidah imla, maka dianjurkan bagi para penulis Al-Qur’an untuk memperhatikan rasm Utsmani sebelum menuliskan ayat, untuk menghindari kesalahan dalam penulisan. Karena jika penulisan hanya mengandalkan hafalan semata, maka ditakutkan akan terdapat perbedaan dalam rasm yang Nindhya Ayomi. Sumber Muhammad Thahir ibn Abd al-Qadir al-Kurdi, Tarikh al-Qur’an wa Gharaibu Rasmihi wa Hukmuhu, Jeddah 1365 H.
\n \n \n kaidah kaidah rasm utsmani dan contohnya
8auIG.
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/902
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/945
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/38
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/745
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/709
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/42
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/942
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/996
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/406
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/964
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/78
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/345
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/975
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/336
  • 0gwg9klhmf.pages.dev/206
  • kaidah kaidah rasm utsmani dan contohnya